AMAZINGBANDUNG | Jajaran meja dan kursi kayu berderet dalam satu ruangan. Dominasi konsep interior soft industrial dengan aksen warna-warna cerah di sejumlah sudut membuat ruangan tersebut serupa dengan sejumlah kafe dan kedai kopi yang belakangan marak muncul di Kota Bandung.

Bedanya, tidak nampak kegiatan makan dan minum di sana. Sekelompok orang nampak asyik bekerja dengan laptopnya, sesekali berdiskusi dengan rekan-rekan di mejanya.

Adalah Co n Co Co-working Space, sebuah wadah bekerja yang memadukan konsep santai a-la kafe dengan lingkungan kerja produktif seperti layaknya kantor.

“Co-working space sendiri awalnya muncul pada tahun 2000-an di Amerika dan Eropa, bentuknya adalah tempat dimana orang datang untuk bekerja sambil berkolaborasi dengan para pekerja lain yang bergerak di bidang yang sama maupun berbeda,” ujar Manajer Operasional Co n Co Co-working Space, Muhammad Andi Aulia.

Berbekal konsep tersebut, Andi—sapaan sehari-harinya—dan sejumlah rekannya terinspirasi untuk mengembangkan konsep co-working space di Kota Bandung.

“Kami melihat adanya kebutuhan tempat bekerja untuk orang-orang yang tidak punya kantor, seperti freelancer atau perusahaan-perusahaan start up, selama ini mereka bekerja di tempat yang kurang kondusif seperti kamar kost atau kafe, ini adalah peluang untuk menerapkan co-working space di Bandung,” kata dia.

Gagasan tersebutlah yang akhirnya menghantarkan ia dan rekannya untuk mendirikan Co n Co pada September 2014 silam. Terletak di jalan Dipatiukur nomor 5, Co n Co menganut konsep komunitas dan kolaborasi guna mewadahi sejumlah perusahaan baru, individu maupun komunitas untuk bekerja dan berbagi ide dalam satu atap.

“Co n Co sendiri merupakan singkatan dari Community and Collaboration, kami membuat tempat bekerja yang tidak dibatasi oleh sekat-sekat perusahaan, melainkan semangat kerja bersama sambil berkolaborasi dengan orang-orang dari perusahaan atau komunitas lain,” ujarnya.

Menurutnya, Kota Bandung memiliki kelebihan dibanding kota-kota besar lain di Indonesia untuk diterapkan konsep co-working.

“Banyak freelancer dan pengusaha start-up yang berasal dari Bandung dibanding kota-kota lain seperti Jakarta, Surabaya atau Yogyakarta. Di Bandung kami melihat potensi pasarnya besar terutama karena kehadiran sejumlah kampus besar yang menghasilsilkan anak muda kreatif dan berani mengambil resiko,” kata dia.

Co&Co Co Working di Bandung

salah satu sudut co working

“Kantor” Kolaborasi

Di Co n Co, para calon anggota dapat memilih untuk bergabung kerja harian atau per-satu bulan, masing-masing selama 12 jam per hari untuk kemudian mendapat fasilitas berupa area kerja, koneksi internet, pantry, area istirahat, hingga ruang rapat.

Keuntungannya, Andi mengatakan, para anggota tidak perlu lagi bingung ketika internet padam atau kesulitan mencari printer seperti ketika bekerja di kafe-kafe.

“Fasilitas lebih banyak dibanding bekerja sambil makan di kafe-kafe, di sini juga para anggota bisa sekaligus kenalan dengan orang baru dan menjalin kerjasama bisnis maupun personal,” kata dia.

Hingga saat ini, Andi mengatakan, jenis perusahaan yang tergabung di Co n Co beragam, mulai dari bidang teknologi informasi hingga les bahasa.

“Yang paling banyak perusahaan IT (Information & Technology) karena mereka biasanya kerja secara individu, kemudian ada juga arsitektur, desain, bahkan sempat ada les bahasa,” ujarnya.

Selama satu tahun berdiri, menurut Andi, bentuk kolaborasi yang terjalin di antara para anggotanya sudah terbilang banyak, mulai dari kerjasama besar maupun sekedar tukar pikiran.

“Sudah banyak kolaborasi bisnis yang terjalin, baik kolaborasi besar maupun kerjasama dalam bentuk ide. Contohnya, kerjasama antara fotografer dengan desainer, dimana ketika desainer hendak memasarkan produk-produknya, ia meminta bantuan fotografer untuk melakukan pemotretan. Semakin banyak jenis keahlian akan semakin baik,” kata dia.

Seperti salah satu freelancer di bidang desain produk, Rininta Isdyani, misalnya,. Ia mengaku terasa terbantu untuk lebih produktif setelah menjalankan konsep co-working.

“Karena saya freelance jadi biasanya kerja sendiri di rumah, tidak ada kantor. Setelah mencoba kerja dengan konsep co-working memang lebih produktif, meski tempatnya santai tapi suasana kerjanya dapet, “ ujarnya.

Ia mengatakan, dirinya juga dapat menjalin interaksi dan bertukar ide dengan sesama freelancer dan pegiat bisnis lain selama ‘ngantor’ di Co n Co.

“Di sini bisa ngobrol, tukar pikran dan bertemu orang-orang baru dengan bidang kerja yang sangat berbeda sekalipun untuk diajak berkolaborasi,” ungkap lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB ini.

Tak hanya konsep kolaborasi, ke depannya, Co n Co akan menghadirkan sejumlah kelas keterampilan bekerjasama dengan komunitas Lingkaran, Jakarta.

“Nantinya tiap minggu akan ada kelas menulis hingga kelas membuat dompet kulit, intinya kelas keahlian yang dibutuhkan orang tapi tidak didapat di pendidikan formal, “ ujar Andi menambahkan.(NurKhansa dkk)