Amazing Bandung | Apa yang kamu bayangkan jika melihat seorang mantan napi. Rambut gondrong, lengan bertato, lengkap dengan baju hitam dan celana jeans sobek. Tampilan semacam itu tentu kerap kita temui. Lalu bayangkan kampung berisi mereka semua, bagaimana menurut Anda? Namun jangan salah, para mantan napi di RT 04 RW 01, Kelurahan Babakan Asih Kecamatan Bojongloa Kaler, punya kampung yang asri dan produktif.

Sekilas, kampung yang dikenal sebagai blok tempe ini biasa saja. Perumahannya padat, jalannya pun berupa gang yang hanya cukup satu motor. Untuk sampai di situ, kita harus melewati jembatan besi yang sama sempitnya. Jembatan itu menghubungkan RT itu dengan RT tempat kami masuk. Bila jalanan di RT sebelumnya banyak berlubang, jalan di sini sudah memakai paving block. Masuk sedikit lagi, ada lapangan berumput seluas lapangan badminton tempat anak-anak biasa bermain. Tak jauh dari situ, ada saung bambu dua tingkat tempat warga kerap berkumpul.

Warga berkumpul menikmati makan siang di taman

Warga berkumpul menikmati makan siang di taman

“Ohh, Pak RT lagi di Surabaya,” ujar Agus, yang ternyata orang yang dicari, menjawab kocak. Saat itu di saung, Agus dan warganya sedang berkumpul. Beberapa di antara mereka berpenampilan preman, duduk mengitar. Di sela-sela diskusi warga itu, Agus menyempatkan bercerita.

Suasana semacam ini adalah hal baru. Dulu sebelum 1998, kampung ini sempat rawan perkelahian dan pencurian. Beberapa warganya sempat dibui atas beberapa kasus, dan usai keluar, mereka dijauhi penduduk lainnya. Bersama pemuda setempat, Kang Reggi Kayong Munggaran, Agus melakukan proses pendekatan pada para mantan napi yang memakan waktu hingga 2010. Sat ini ada warga yang memiliki usaha rental mobil Bandung yang maju.

“Ketika mereka sedang minum-minum, kami dekati. Tak perlu dilarang cukup didekati. Lama-lama mereka malu dan dari situlah kami mulai mengedukasi dan memotivasi mereka,” cerita Agus. Selanjutnya, melalui kegiatan kumpul seperti ngaliwet, warga dikenalkan dengan masalah setempat seperti jalan rusak dan banjir. Mulai 2005 lah, papar Agus, warganya mulai memperbaiki jalan. Karena tak punya tim ahli, melalui Kang Reggi, warga mendatangkan Ketua Bandung Creative City Forum Ridwan Kamil guna memberi masukan.

Indahnya coretan mural di tembok

Indahnya coretan mural di tembok

Dari masukan Ridwan Kamil, dibuatlah sumur resapan di 20 titik. Selain itu, kampung pun didekorasi, seperti beberapa dinding yang dihias mural, juga saung warga yang dihiasi ratusan foto kegiatan mereka. Sampah pun, bila kita cari, sulit dijumpai.

Kata Deden, warga lainnya, sumber pembangunan itu adalah dari warga sendiri. Dana dikumpulkan dari iuran sebesar Rp2500,- tiap rumah setiap satu minggu sekali. Kelebihannya disimpan di kas dan digunakan sebagai asuransi masyarakat. Deden menambahkan, tak ada dana pemerintah atau partai politik mana pun. Warga pun pernah menolak Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) karena terlalu banyak ini itu. Meski demikian ia mengaku tidak antipemerintah.

Perubahan kampung itu tidak secara fisik saja, tapi juga secara mental. Deden berkisah, “Yang tadinya galak sekarang lebih ramah karena sering diadakan kegiatan bersama seperti kerja bakti, ronda dan lainnya”.  Dulu bila para pemuda kumpul, warga lain akan khawatir. Kini semua warga tak segan ikut kumpul bersama, dari situlah gagasan-gagasan yang baik bermunculan.

Salah satu pemuda itu adalah Ipong, pernah keluar masuk penjara. Dia mengenang masa lalunya, dulu ia kerap kumpul bersama teman-temannya, membuat warga lain jadi gerah. Namun kini semuanya berubah. Perubahan itu, menurut Ipong, mencapai 180 derajat. Acara tiap hari besar seperti hari kemerdekaan pun berubah total. “Dulu pasti ada keributan, kalau sekarang tidak,” jelasnya. Mereka kini banyak membuka usaha rumahan.

Kami masih berbincang dengan Ipong saat para ibu menyambangi saung sambil membawa makanan. Di tangan mereka ada sebakul nasi, juga banyak piring berisi ikan asin, tempe goreng, tumis tahu cabai, lengkap dengan kerupuk dan sambalnya. Selepas semuanya tersaji, mereka memaksa kami untuk ikut bersantap siang. Bersantap di sebuah saung pemukiman warga, yang dulunya dipenuhi ahli keributan, kini jadi penggiat kebersamaan.